Tipuan Media Iran: Informasi Palsu Pelarangan Burqa Oleh ISIS Disebarkan Banyak Media Dunia
Ilustrasi

IndonesianReport.com - Burqa dilarang di Irak atas perintah dari Negara Islam (ISIS)! Informasi itu banyak diterbitkan oleh beberapa media online Indonesia beberapa hari ini. Kabar itu menyebutkan bahwa kelompok teroris ISIS  melarang wanita menggunakan pakaian yang ditentukan oleh syariah (Burqa) setelah insiden penyerangan yang dilakukan oleh wanita yang memakainya. 

Beberapa media Indonesia melaporkan bahwa ISIS telah melarang pemakaian burqa di Irak. Aturan itu diterapkan ISIS di wilayah kekuasaannya untuk alasan keamanan.

Demi Keamanan, ISIS larang wanita kenakan burqa (Tempo.co)

ISIS keluarkan larangan burqa setelah dua komandannya tewas dibunuh (Kompas.com)

Dua Komandan ISIS Dibunuh Wanita Pakai Burqa, ISIS Larang Pemakaian Burqa (Tribunnews.com)

ISIS Mendadak Larang Penggunaan Burka (Okezone.com)

ISIS Tiba-Tiba Melarang Burka, Ada Apa? (Liputan6.com)

Di Irak, ISIS Larang Perempuan Kenakan Cadar (Viva.co.id)

Sebuah artikel berita dari The Sun berjudul " ISIS melarang pemakaian burqa menuntut perempuan BERHENTI menutup diri di Irak - mengklaim cadar menimbulkan masalah utama bagi keamanan."

Berita The Sun yang diterbitkan bersumber dari sebuah situs Iran, Iran Front Page (IFP) yang menerbitkan berita itu pada 4 September 2016 dengan judul  "Perempuan dilarang menggunakan burqa di pintu masuk pusat keamanan Negara Islam ". Beberapa media internasional juga mengambil sumber yang sama, seperti Daily Mail dan International Business Times.

Namun kabar itu belum mendapatkan verifikasi resmi karena lembaga Iran belum memperoleh Info itu dari tangan pertama. Informasi itu dilanjutkan oleh saluran Iran Al Alam News Network ... yang pada gilirannya informasi itu berasal dari seorang sumber anonim.

Sumber mengatakan informasi itu datang " dari provinsi Nineveh". Dalam laporan di saluran TV pada 2 September mengatakan "kelompok teroris ISIS mengeluarkan perintah bahwa tidak ada wanita yang diperbolehkan untuk memakai niqab atau burqa ketika memasuki tempat keamanan atau militer ". Larangan itu berlaku di kota Mosul , Irak utara. Menurut sumber yang sama, keputusan itu diambil setelah seorang wanita berjilbab menembak dua tentara dari Negara Islam.

Gelombang berita itu awalnya berasal dari TV Iran, wanita dengan burqa dilarang masuk di pusat-pusat keamanan di kota Mosul.

Media Al Alam News Network (Iran) , terkenal sebagai media ekstrim yang konten beritanya terfokus pada pembelaan golongannya (Syiah). Seorang wartawan dari France 24 mewawancarai pakar Perancis yang berkaitan dengan ISIS, Wassim Nasr mengatakan: " Hati-hati, di saat-saat perang  media Iran dapat membuat tipuan." Iran berada diposisi perang terbuka melawan ISIS, banyak rumor palsu diciptakan oleh media di kedua sisi.

Wassim Nasr juga mengatakan, "negara Islam tidak akan melarang burqa, bahkan untuk alasan keamanan !"

Ahli lainnya yang terkait pada masalah itu setuju dengan pendapat dari Wassim Nasr: "Tidak mungkin bahwa ISIS mengeluarkan aturan itu untuk perempuan, kita tidak bisa melihat wajah seorang wanita di wilayah tersebut."

Informasi pelarang burqa di Irak oleh ISIS tidak memiliki bukti penunjang dan semua informasi itu berasal dari media Iran yang banyak menerbitkan informasi palsu seputar ISIS. Pakaian Burqa telah populer di Irak dan negara Islam lainnya, nampaknya informasi itu dihembuskan media Iran dengan tujuan untuk melemahkan dan membuat citra buruk ISIS.

The Daily Best dalam artikelnya berjudul "Bagaimana Iran Menipu Internet Hingga Percaya Cerita Palsu Tentang ISIS". Propaganda media Iran menyangkut pakaian juga telah diterbitkan PresTV pada 5 September dengan cerita yang sama. Kedua artikel dari media Iran mengatakan bahwa dugaan larangan itu terkait kontroversi larangan burkini di Perancis.

Rumor larangan burqa jika dilacak semuanya akan kembali ke sumber media Iran dan beberapa artikel selanjutnya yang membuat kita lebih skeptis. IraqiNews.com melaporkan bahwa seorang wanita berjilbab tewas di tangan dua pejuang di Sharqat, tetapi kelompok ISIS hanya mengatakan meminta kepada semua anggotanya untuk lebih waspada. 

Rasha Al Aqeedi, warga asli Mosul peneliti di Al Mesbar Studi dan Research Center di Dubai mengatakan kepada The Daily Beast: "Aku berpikir, mengapa ada orang di Mosul dapat menghubungi agen di Iran."

Untuk mendapatkan informasi seputar wilayah yang dikuasai ISIS tidaklah mudah, jurnalis harus datang ke Irak dengan risiko mereka akan terbunuh. ISIS pada musim panas ini telah memotong akses internet hingga menyebabkan seluruh komunikasi online hanya bisa didapatkan di tempat-tempat khusus.

Seorang warga Mosul mengatakan: "Kami harus sangat berhati-hati tentang bagaimana kita berkomunikasi. Ini semacam bahasa kode." Warga tersebut juga mengatakan bahwa larangan itu hanya omong kosong.

Comments

Leave a Comment

Your Comment