Kronologis Kasus Kanjeng Pribadi Sejak Tahun 2015
Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sempat menghebohkan dapat menggandakan uang, akhirnya ditangkap polisi di padepokannya

IndonesianReport.com - Baru-baru ini masyarakat digemparkan oleh kejadian tertangkapnya seorang yang mengaku Kiayi yang mampu menggandakan uang. Dimas Kanjeng Taat Pribadi sempat menghebohkan dengan tampil dalam rekaman video pada awal tahun 2013, dalam video Dimas mengklaim mampu menggandakan uang.

Dimas ditangkap polisi berawal dari ditemukannya mayat Ismail Hidayah di Tegalsono, Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo pada Februari 2015 silam. Berdasarkan laporan kabarbromoterkini.com pada 05 Juli 2016, saat pertama kali ditemukan, polisi sempat kesulitan mengidentifikasi karena tak ada identitas korban.

Usai setahun berselang, kasus itu mulai menemui titik terang. Itu, setelah ada laporan orang  hilang dari keluarga Ismail. Usai setahun lebih berselang, kuburan Ismail pun dibongkar. Itu   untuk mencocokkan jenazah  yang ditemukan di Tegalsono dengan Ismail Hidayah.

Ciri-ciri yang dikenakan mayat  tersebut sama persis dengan ciriciri saat Ismail keluar dari rumah  terakhir kalinya. Yakni, mengenakan  baju koko selutut dan sarung  motif kotak-kotak warna biru. Sidik  jari mayat itu juga sama dengan  sidik jari Ismail Hidayah.

Terkait kasus pembunuhan Ismail ini, polisi telah menetapkan  enam tersangka. Semuanya  adalah anggota Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mereka adalah Mishal Budianto  alias Sahal, 48; Wahyu Wijaya, 50, keduanya warga Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

Kemudian, Samsudi, warga Desa Liprak, Kecamatan Banyuanyar. Selanjutnya, Ahmad Suyono,  warga Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya; Tukijan, 50, warga Desa Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarmasin; serta Etto Sutaye  alias Badrun, warga Desa Rejing,  Kecamatan Tiris.

Etto Sutaye akhirnya meninggal saat ditahan di  Mapolda Jatim pada Sabtu (25/6)  sekitar pukul 18.00 lalu. Saat itu, lima tersangka  masih ditahan  di Mapolda Jatim. 

Dikutip dari serambimata.com, menurut istrinya, saat itu Ismail disebutkan tidak membawa handphone (HP) dan dompet miliknya. Nah, hingga pukul 20.00, Ismail tidak kunjung pulang. Merasa cemas, bibi pun mendatangi takmir Masjid Al Amanah. Sayangnya ta’mir masjid mengaku tidak melihat Ismail salat berjamaah di masjid setempat.

Suaminya yang tak kunjung pulang membuat bibi khawatir. Keesokan harinya atau pada 3 Februari 2015, bibi melapor ke Polres Situbondo terkait suaminya yang belum pulang ke rumah. Hingga akhirnya pada 5 Februari 2015, ia mengaku ditelepon oleh petugas Polres Probolinggo tentang penemuan mayat Mr. X. Saat itu, ciri-ciri mayat yang ditemukan serupa dengan ciri-ciri Ismail.

Yakni, memakai baju takwa warna biru selutut dan memakai sarung kotak-kotak warna biru. “Namun, saya tidak bisa memastikannya karena saat saya datang, mayatnya (Mr X) ternyata sudah dikubur,” katanya.

Baru pada 1 Juni 2016 lalu, pihaknya dihubungi petugas Polres Probolinggo untuk diminta memastikan identitas mayat Mr. X yang pada akhirnya dipastikan bahwa Mr. X adalah Ismail Hidayah. 

Kematian Ismail bisa dibilang sangat tragis, bagaimana tidak, menurut orang nomor satu di kepolisian Jatim, korban yang dibuang di daerah hutan di Situbondo hanya ditanam pelaku tidak sampai 1 meter.

4ec29-hy1.jpeg

Ismail Hidayah semasa hidup bersama putera kesayangannya (Foto: serambimata.com)

Sementara Abdul Ghani diketahui  dibunuh di luar Probolinggo. Mayat pengusaha batu  permata yang aktif di LSM ini,  ditemukan mengambang di bawah sebuah jembatan di Kabupaten  Wonogiri pada 14 April 2016. Untuk pembunuhan Abdul Ghani, Polres Wonogiri pada Juni lalu merilis telah menangkap empat pelaku.

Berdasarkan olah forensik pada mayat, korban diperkirakan meninggal 3 hari sebelumnya. Korban juga mengalami penyiksaan yang sadis sebelum tewas. Terdapat beberapa luka di tubuh korban.

7270a-hy.jpg

Abdul Ghani semasa hidup (Foto: serambimata.com)

Selain empat pelaku yang telah ditahan di Wonogiri,  polisi juga mengamankan Kurniadi, 50, warga Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Mojokerto.  Saat ini Kurniadi yang juga anggota  Padepokan Dimas Kanjeng   juga telah ditahan di Mapolda Jatim.

Saat sidang putusan praperadilan gugatan istri Sahal dibacakan  di PN Kraksaan beberapa waktu  lalu, sejumlah istri tersangka yang telah ditangkap polisi itu datang semua. Mereka saat itu mengaku bakal mengajukan gugatan praperadilan  juga atas penangkapan sejumlah suaminya. 

Jawapos.com pada 03 Juni 2016 melaporkan bahwa Kapolres Wonogiri AKBP Ronal Reflie Rumondor saat dikonfirmasi terkait pembunuhan Abdul Ghani. Namun, ia masih enggan menjabarkan lebih detail. “Jangan diekspos dulu untuk kepentingan penyelidikan. Yang eksekutornya sudah. Tinggal yang menyuruh. Sekarang masih kami kembangkan,” jelas perwira polisi dengan dua melati di pundaknya tersebut.

Kondisi jenazah korban saat pertama kali ditemukan cukup mengenaskan. Kondisi korban telanjang dengan kepala korban terbungkus plastik dan dilakban warna hitam. Mayat Gani ditemukan mengambang oleh nelayan yang mencari ikan di bawah jembatan Kedung Areng. Usai menemukan mayat itu, nelayan tersebut langsung melapor ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Pihak BPBD pun langsung melanjutkan laporan itu ke polisi setempat.

05a98-hy2.jpg

Kondisi mayat Abdul Ghani ditemukan di Tegalsono (Foto: Jawa pos)

Awalnya, petugas tak menemukan identitas korban. Saat itu hanya diketahui di jempol tangan kanan korban terdapat tinta seperti habis melakukan cap jempol. Dari pemeriksaan sidik jari itulah, lantas diketahui nama Abdul Gani.

Pada Kamis 22 September 2016, Dimas Kanjeng Taat Pribadi akhirnya ditangkap polisi diduga menjadi otak pembunuhan dua orang santrinya. Penangkapan Dimas tidak berjalan mudah, polisi harus mengerahkan ribuan personil bersenjata lengkap untuk memasuki padepokan.

“Kami bertindak tegas. Dua kali dipanggil tak pernah menggubris, dengan alasan sakit. Namun semua itu tidak benar. Terpaksa kami lakukan dengan cara menggerebek padepokan,” kata Kombes Pol. ArgoYuwono, Kabid Humas Polda Jatim seperti dikutip dari Detik, Jumat (23/9/2016).

Kepolisian Daerah Jawa Timur mengindikasikan motif pembunuhan yang dilakukan Dimas Kanjeng terhadap dua santrinya terjadi karena takut kegiatan padepokan yang menyimpang terbongkar. Kegiatan padepokan yang menyimpang adalah aktivitas menggandakan uang.

Dikutip dari detikcom, tewasnya Abdul Ghani berawal karena ia melaporkan Dimas Kanjeng ke Mabes Polri, tentang penipuan dan penggelapan. 

"Korban laporan ke Mabes Polri tentang penipuan dan penggelapan," jelas Kombes Argo sambil menambahkan, untuk kasus penipuan dan penggelapan yang dilaporkan ke Mabes Polri, akan dilimpahkan ke Polda Jatim.

Argo mengatakan, korban pernah dimintai keterangan sebagai saksi di Mabes Polri sebagai saksi. Tersangka Dimas Kanjeng ini menyuruh anak buahnya untuk membunuh korban.

"Korban dibunuh, agar tidak bisa memberikan keterangan, dan tidak ingin rahasianya terbongkar," tuturnya.

Sedangkan kasus pembunuhan yang dialami Ismail, warga Situbondo yang ditemukan tewas di Tegalsiwalan, Probolinggo pada 2015 lalu, menurut Argo, tersangka Dimas Kanjeng sementara ini tidak terlibat kasus pembunuhan itu.

"Yang korban Ismail tidak ada hubungannya dengan Taat. Keterlibatan tersangka Taat ini yang TKP penemuan mayatnya di Wonogiri, Jawa Tengah," tandasnya. 

Beredar rumor bahwa yang ditangkap polisi adalah bayangan Dimas Kanjeng, sedangkan tubuh aslinya sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah. Para pengikutnya masih tidak mempercayai gurunya terlibat pembunuhan, mereka percaya bahwa gurunya masih bebas berkeliaran di luar sana.

Namun rumor yang dipercaya para pengikutnya hanyalah bagian dari paradigma semu. Pada kenyataannya Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Bustomi menegaskan jika dua kloter haji dari wilayahnya, tidak tercantum nama Taat Pribadi sebagai jamaah haji tahun 2016.

Comments

Leave a Comment

Your Comment